METODE PEMBAYARAN JAMAN DAHULU

 

Berbicara mengenai pembayaran atau jual-beli sudah menjadi suatu kebiasaan yang sudah melekat di kehidupan kita. Setiap orang pasti melakukan transaksi, entah menjual atau membeli. Selepas dari hal itu, alat yang dijadikan untuk membayar demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari masa ke masa pastilah berbeda.

 

Zaman sekarang, alat untuk melakukan pembayaran tidaklah sesulit zaman dahulu. Uang sudah menjadi alat pembayaran yang  berlaku di seluruh dunia. Dengan memiliki uang yang banyak, apapun kita dengan mudah mendapatkat barang yang kita inginkan  Bahkan selain uang, sudah banyak sekali alat untuk melakukan pembayaran yang kekinian dan memudahkan kita dalam melakukan transaksi seperti aplikasi dompet-dompet digital. 

 

Namun apakah anda pernah bayangkan, bagaimana system pembayaran yang dilakukan nenek moyang kita yang hidup ratusan abad yang lalu sebelum kita, apakah pembayaran kala itu lebih mudah seperti sekarang-sekarang ini? Tentu saja tidak. Orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu sebelum kita, dalam melakukan transaksi jual beli mereka tentu saja tidak menggunakan mata uang sebagai alat bayar nya, namun dahulu mereka di zaman 1200 SM, melakukan jual beli barang dengan cara system barter, yaitu membeli barang lalu membayarnya juga dengan barang yang mereka miliki.

 

Jadi, Mereka akan menawarkan barang yang bernilai setara untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Namun barang yang dibeli tak harus sama, yang terpenting nilainya harus setara. Selain jual beli barang, system barter juga berlaku pada penawaran jasa. Seiring berjalannya waktu, barang yang paling sering digunakan untuk barter dikembangan menjadi referensi alat tukar di masa depan.

 

Perkembangan Pembayaran Jaman Dahulu

 

Di tahun 600 SM, Untuk pertama kalinya koin resmi dicetak menjadi alat tukar, yang awalnya system pembayaran dengan system barter, di Lydia yaitu sebuah kerajaan kuno di Anatolia barat telah menggunakan koin tersebut menjadi alat tukar dengan barang yang ingin di beli.

 

Menurut sejarawan, di tahun 600 SM juga sudah terlahir uang kertas dan menjadi alat pembayaran di peradaban china dan terus berkembang sampai pada tahun 1600, bangsa eropa pun mulai menggunakan uang kertas sebagai alat pembayaran yang sah yang nantinya Uang kertas dikeluarkan oleh bank dan bisa ditukar dengan koin perak atau emas. Pemerintah pertama yang secara resmi mengeluarkan uang kertas adalah Pemerintah Kolonial Perancis dari Kanada di tahun 1635.

Kemudian, system pembayaran sangat pesat perkembangannya sampai ditahun 1900-2000an, terlahir system pembayaran baru yaitu menggunakan kartu kredit atau debit.  Kartu kredit pertama di dunia di perkenalkan secara resmi di UK pada tahun 1966 oleh Barclays, yang didasari oleh kartu Bank Amerika yang sebelumnya sudah diluncurkan lebih dulu di AS. Sedangkan kartu debit baru diperkenalkan tahun 1987.

 

Sejak tahun 2000an, pembayaran non tunai atau menggunakan kartu sangat “ngetren” di seluruh dunia. Tujuan dari terciptanya kartu debit ialah agar terhindar dari kejahatan yang mengincar uang anda, oleh karena itu dengan menggunakan pembayaran dengan kartu, otomatis anda tidak memegang uang cash saat berpergian untuk membeli sesuatu demi meminimalisir tindak kejahatan yang mengincar uang anda.

 

Masuk ke era digital, ada lagi nih yang makin unik. Bitcoin sendiri adalah mata uang virtual yang digunakan oleh orang-orang untuk melakukan transaksi di beberapa website tertentu. Namun kebanyakan orang jika ingin jual beli online biasanya menggunakan intenet banking atau tranfer.

 

Namun siapa sangka, di era modern ini masih banyak yang menggunakan pembayaran system dahulu yaitu dengan cara barter  atau tukar antar barang dengan barang? Meski kita sudah di era teknologi, barter rupanya masih dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat yang mempertahankan tradisi. Hal tersebut tak bisa kita pungkiri, apalagi dihapuskan. 

 

Namanya tradisi, agak sulit dihapuskan. Terlebih bagi mereka yang menutup diri dari informasi dari luar. Di Indonesia, praktik jual beli dengan cara barter atau bertukar barang bisa kita temukan ketika berwisata ke Pulau Komodo. Cobalah sempatkan mampir ke Pasar Warloka, di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di pasar ini, kita jangan berharap bisa menemukan uang. Jadi jika ingin beli sesuatu, maka siapkan barang tebusannya dengan nilai yang sepadan.